Kamis, 12 Desember 2013

BIOEKOLOGI HAMA PASCAPANEN

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
            Hama pasca panen merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi. Hasil panen yang disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat diserang oleh berbagai hama gudang yang dapat merugikan. Hama pasca panen yang banyak menimbulkan kerugian adalah tikus gudang (Rattus diardi) dan golongan serangga. Kerugian yang ditimbulkan oleh hama pasca panen ini berupa penurunan kualitas dan kuantitas yaitu kerusakan bentuk, aroma, tercampur kotoran, daya tumbuh, nilai gizi dan nilai sosial ekonomi materi yang disimpan (Syamsuddin, 2008).
            Secara umum serangga pengganggu yang terjadi pada produk pascapanen adalah merup[akan investasi laten atau bagian stadia pertumbuhannya telah ada dalam buah sebelum dipanen. Seperti contohnya lalat buah meletakkan telurnya di dalam buah saat masih di kebun dan produk tersebut masih relative muda. Telur tidak dapat tumbuh dan berkembang karena kondisi lingkungan belum memungkinkan seperti keasaman yang tinggi. Namun setelah dipanen dimana produk masuk pada periode pemasakan maka telur akan menetas dan berkembang menjadi larva atau ulat yang sangat tidak dapat diterima oleh konsumen apabila dijual terlebih lagi di ekspor. Walau terjadi perkembangan pasar bebas secara global sekarang ini namun Phytosanitary Restriction (PR) berlanjut membatasi perdagangan. Pengendalian serangga pascapanen adalah sangat kritis untuk perdagangan internasional. Tujuan pengendalian ini adalah untuk melindungi darah-daerah industri pertanian dari introduksi hama serangga perusak. Pengembangan p[erlakuan khusus untuk komoditi dan serangga tertentu memerlukan banyak data penelitian. Waktu yang dibuthkan untuk pengembangan perlakuan hama serangga sampai dapat diterima secara komersial membutuhkan waktu cukup panjang (5-10 tahun) (Supartha Utama, 2006).
            Carpophilus hemipterus L.(Driedfruit beetle) adalah hama utama pada simpanan kurma, anggur, apel, jeruk, kismis, ara dan pisang sehingga mengakibatkan kehilangan hasil secara kuantitas dan kualitas. Akan tetapi pada saat ini C. hemipterus pada simpanan kacang tanah. Oleh karena itu penelitian tentang beberapa aspek biologi C. hemipterus pada kacang tanah diharapkan dapat
memberikan informasi dasar untuk penerapan pengendalian yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari beberapa aspek biologi hama C. hemipterus pada simpanan kacang tanah varietas lokal kepanjen yang meliputi perilaku kawin imago, ukuran, bentuk, berat, warna dan lama masing-masing stadium dan mengetahui penurunan berat akibat infestasi C. hemipterus pada simpanan kacang tanah varietas lokal kepanjen dengan populasi awal yang berbeda (Fitriya dwi handayani, 2008).
            Kerusakan bahan pakan akibat serangan serangga merupakan kasus yang paling sering terjadi. Serangga mengambil dan memakan zat makanan dari bahan baku dan menyebabkan kerusakan lapisan pelindung bahan. Selain kerusakan secara fisik, karena sifat serangga yang suka bermigrasi, serangga juga dapat memindahkan spora jamur perusak bahan pakan dan membuka jalan bagi kontaminasi jamur atau kapang yang menghasilkan mikotoksin. Serangga perusak bahan pakan antara lain ngengat, penggerek dan kumbang. Kumbang padi karatan (Cryptolestes ferrugineus) merusak gabah, beras, jagung dan biji-bijian lain. Kumbang dan larva biasa memakan lembaga dan merusak bagian tengah biji. Bahan baku yang diserang menjadi berjamur dan berbau apek. Tubuh kumbang dewasa berwarna coklat kemerahan dengan panjang 2-3 mm. Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-dewasa) selama 21 hari pada suhu 31oC dan kadar air 14.5% (Suparjo, 2011).
Penyimpanan merupakan salah satu tahapan pasca panen yang dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar tidak hanya karena penanganan/pengelolaan yang tidak benar tetapi juga karena lamanya waktu penyimpanan sehingga memudahkan berkembangnya hama. Perkembangan hama pasca panen sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, keadaan komoditas yang disimpan dan keadaan lingkungan fisik. Banyaknya komoditas yang disimpan yang bercampur dengan komoditas lainnya sangat menguntungkan kehidupan hama pasca panen karena penyimpanan merupakan tempat penimbunan yang berfungsi secara terus menerus atau hanya kosong dalam waktu singkat. Hama pasca panen dapat beradaptasi dengan baik untuk dapat berkembang pada sisa komoditas, selama transportasi dan fasilitas pengolahan. Adaptasi tersebut termasuk kemampuan untuk dapat berkembang pada berbagai komoditas ataukah kemampuan untuk mencari makan, kawin dan meletakkan telur. Semua faktor-faktor ini merupakan hal yang sangat penting terutama dalam pengelolaan hama pasca panen. Pengelolaan hama pasca panen adalah kegiatan yang mengatur keadaan lingkungan hama pasca panen yang bertujuan untuk mengurangi atau menekan perkembangan populasi hama. Dalam pengelolaan hama pasca panen maka factor-faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan hama pasca panen perlu dikelola atau diatur sehingga keberadaan hama menjadi berkurang(Sylvia sjam, 2007).

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum Teknologi Panen Dan Pascapanen bagian Hama dan Penyakit Tumbuhan dengan acara “Bioekologi Hama Pascapanen” adalah untuk memahami morfologi serangga hama pascapanen, cara penyerangan serangga hama pascapanen dan gejala yang ditimbulkan oleh serangga hama pascapanen.


BAB II. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum mata kuliah Teknologi Panen dan Pascapanen bagian Hama dan Penyakit Tumbuhan dengan acara “Bioekologi Hama Pascapanen” dilaksanakan di laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember pada hari Jum’at, 22 Nopember 2013 pukul 14.00 sampai 16.00 WIB.

2.2 Alat dan Bahan
2.2.1 Alat
1          Mikroskop
2          Pensil
3          Cawan petri
4          Penggaris

2.2.2 Bahan
1          Jenis biji-bijian yang terserang hama
2          Kertas HVS 5 lembar

2.3 Cara Kerja
1          Menyiapkan alat dan bahan
2          Menentukan jenis biji-bijian yang diserang hama pascapanen
3          Mengamati biji-bijian yang terserang hama pascapanen dibawah mikroskop
4          Mengenali jenis serangan hama pascapanen, serta menggambar hama pascapanen di kertas HVS.
5          Melengkapi dengan keterangan jenis serangan serta akibat yang ditimbulkan
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
 3.2 Pembahasan
            Dari praktikum Teknologi Panen dan Pasca Panen dengan acara “Bioekologi Hama Pasca Panen” di peroleh pemahaman mengenai jenis serangga hama yang sering menyerang produksi pertanian ketika disimpan dalam gudang. Serangga hama tersebut yakni meliputi Kumbang beras (Sitophilus oryzae).
Ciri morfologi dari kumbang beras (Sitophilus oryzae) adalah  memiliki  mata, antena, thoraks,  tanduk, kaki, kepala, sayap, abdomen dan ofipositor.  Dan memiliki bentuk tubuh kecil dan memanjang.   Larva biasanya bersembunyi di dalam padi- padian dan biji lainnya tempat ia menjadi kepompong Tidak berkaki Dewasa panjang 2-3mm.  Lekukan melingkar di rongga dada Bintik kemerahan pada erytra dan rostrum/moncong.
Sistematika atau klasifikasi kumbang beras (Sitophilus oryzae)  adalah sebagai     berikut   yaitu   Kingdom  Animalia,  Fillum Arthropoda, Class Insecta,
Ordo    Coleopteran ,   Famili    Cucrlionidae ,   Genus   Sitophilus ,   dan   Species Sitophilus oryzae.
Gejala serangan yang diakibatkan oleh kumbang beras (Sitophilus oryzae)  adalah pada butir-butir beras yang terserang akan terdapat goresan pada bagian-bagian samping beras.  Dan apabila tahap serangannya sudah lama maka butir-butir beras akan menjadi hancur.      
Pengendalian Kumbang beras (Sitophilus oryzae)  adalah biasanya digunakan dengan cara Fumigasi PH3, Pemasangan Beetle Trap, dan Perangkap UV. Pemanasan ruangan/ heating, Untuk pengendalian hama gudang secara alami, kita bisa menggunakan tanaman-tanaman yang berfungsi sebagai pestisida nabati, seperti daun dan biji srikaya atau juga biji saga.  Dan juga menjaga kebersihan gudang Menjaga suhu dan kelembaban gudang, Kemasan kedap udara, Menurunkan tingkat kadar air,  Mencegah kutu datang, dan Meningkatkan derajat sosoh.
            Araecerus fasciculatus De Geer. Kumbang ini juga disebut areca nut weevil. Kumbang yang dari ordo Coleoptera (Anthribidae) ini memiliki ukuran 3-5 mm. Protoraks dan elitra memiliki bercak-bercak kecil berwarna coklat atau coklat keabu-abuan yang lebih terang. Elitra lebih pendek daripada abdomen. Antena capitat/menggada, tarsi 5 segmen dan panjang keseluruhan tarsi sama atau melebihi panjang tibia. Mirip famili bruchidae. Awalnya dikenal sebagai hama kopi dan kakao, namun dapat pula menyerang beragam bahan simpan terutama yang berkadar air tinggi seperti jagung, kokoa, biji kopi, buah-buahan kering, jahe. Serangga ini bersifat kosmopolitan dan banyak ditemukan di daerah tropika.
Morfologinya
telur berupa ovoid,pucat dan permukaannya berlekuk tak teratur. Larvanya berambut, berwarna keputihan, bagian toraks membesar. Ukuran 5-6 mm. Berpupa dalam biji. Imago  berumur 17 minggu dalam kondisi optimum (>80% RH), penyebaran utama kemungkinan karena transportasi. Pada kondisi optimum yaitu suhu 28oC dan kelembapan 70%, lama perkembangan dari telur hingga dewasa adalah 46-66 hari. Serangga dewasa aktif terbang dan mampu bertelur rata-rata 50 butir.
            Tribolium casteneum Hbst dan T. confusum J. du Val. Hama ini tersebar luas di seluruh dunia. Hama ini merupakan hama penting karena hampir ditemukan di seluruh gudang di Indonesia. Kumbang ini dikenal sebagai kumbang tepung. Tribolium spp. menyerang beras, jagung, sorghum tepung terigu, kakao, kopra, kacang tanah, gaplek dan rempah-rempahan. Pada material yang keras hama ini biasanya menjadi perusak sekunder setelah ada hama lain atau adanya kerusakan mekanis.
Morfologi dan biologi
Serangga dewasa bentuknya pipih, memanjang berukuran 3-4 mm. Warnanya merah kecoklatan sampai coklat gelap. Kedua bspecies apat dibedakan berdasarkan bentuk sungut. Pada T. castaneum bentuk sungut kapitat atau tiga ruas sungut bagian ujung membesar secara mendadak, sedangkan T. confusum bertipe klavat atau sungut membesar ke ujung secara bertahap. Disamping itu dapat dibedakan bagian mata. Bagian mata tersempit pada T. castaneum tidak tertutup dan terdiri dari 3–4 mata facet, sedangkan T. confusum hanya 1–2 mata facet. Telurnya lonjong berwarna putih keruh, panjangnya 1,5 mm.Larva berbentuk pipih memanjang berwarna putih kekuningan dan pada bagian ujung abdomen terdapat tonjolan berbentuk garpu yang berukuran kecil dan berwarna gelap. Panjang larva instar akhir 5 –6 mm. Larva mempunyai tungkai thorakal yang digunakan untuk bergerak. Pupa bertipe bebas, berwarna putih kekuningan, panjangnya 3, 5 mm
            Oryzaephilus surinamensis (L.) O. surinamensis merupakan serangga kosmoplitan. Serangga ini biasanya berperan sebagai hama sekunder untuk serelia dan produk-produknya. Beberapa Suharto-hpt unej 2010 15 komoditas yang diserang meliputi kopra, rempah-rempah, buah-buahan yang dikeringkan, kacang tanah, biji kakao, beras dan lain-lain.
Morfologi dan biologi
Serangga dewasa mempunyai bentuk tubuh pipih memanjang dengan warna coklat terang sampai coklat gelap. Bentuk kepala segitiga. Panjang tubuh 2,5-3,5mm. Pada bagian sisi kiri dan kanan pronotum terdapat gerigi yang masing-masing jumlahnya enam buah. Di bagian dorsal pronotum nampak tiga garis tebal. Pada elitra terlihat garis-garis membujur yang jelas(Gambar 9). Telur bulat panjang berwarna putih. Larva berbentuk pipih memanjang berwarna putih kekuningan dengan kepala berwarna coklat. Panjang tubuh larva 3,5–4 mm. Pupa terselimuti kokon yang terbuat dari sisa gerekan dan bahan berukuran kecil lainnya. Panjang pupa kurang lebih 3 mm
            Carpophilus spp (F.) Di Indonesia terdapat beberapa species yaitu C. dimidiatus (F.) pada simpanan buah-buahan, C. bifenestyralis Murr.dan C. flavipes Murr. terdapat di Sumatra Utara sebagai bubuk kopi dan di Sulawesi sebagai perusak jagung dan kopra C. hemipterus L. ditemukan di daerah Sulawesi pada kopra dan terdapat pada kopra di Jawa C. humeralis F. pada kopra di Jawa.
Morfologi dan biologi
Serangga dewasa berukuran berukuran 3-5 mm, berwarna kelabu hitam, coklat tua sampai hitam. Elitra tida menutupi seluruh abdomen sehingga ujung abdomen tampak dari arah dorsal. Elitra ditutupi oleh rambut-rambut jarang. Tiga ruas sungut membesar seperti pemukul gong (Gambar 15). Larva berbulu pendek dan jarang, mempunyai tungkai yang digunakan untuk bergerak aktif. Pada pertumbuhan penuh panjangnya 5-7 mm. Pada imago C. Hemipterus elitranya terdapat gambaran warna kuning. Species Carpophilus kecuali merusak kopra, biasanya merusak simpanan bahan-bahan yang mengandung minyak seperti kacang tanah, bungkil dan sebagainya. Pada kopra serangannya biasanya bersama hama lain kopra seperti Necrobia, Oryzaephilus, Ahasverus, dan Ephestia. Serangan Carpophilus tersendiri tidak begitu merugikan , tetapi dengan adanya komplikasi serangan dapat menambah rusaknya simpanan.


BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
            Dari hasil beoekologi hama pasca panen diatas dapat disimpulkan bahwasanya kerugian yang didapat oleh petani khususnya dalam proses penyimpanan digudang hampir 35 % mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas hasil panen seperti, buah-buahan, biji-bijian. Baik berupa tanaman pangan, holtikultura, maupun tanaman perkebunan. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya untuk mencegah terjadinya gejala-gejala serangan hama yang dapat berdampak negatif bagi hasil panen yang mengakibatkan menurunnya kualitas maupun kuantitas hasil panen.   

4.2 Saran
            Agar dapat terhindar dari gejala serangan hama khususnya pada hama gudang, maka perlu adanya suatu tindakan bagaimana untuk lebih memperhatikan kondisi gudang maupun pada hasil itu sendiri disaat melakukan proses penyimpanan. Kemudian mengantisipasi adanya suatu pencegahan berupa pestisida maupun musuh alami.

DAFTAR PUSTAKA
Fitriya dwi handayani. 2008. BIOLOGI Carpophilus hemipterus L. (Coleoptera: Nitidulidae) pada Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). Universitas brawijaya Fakultas pertanian Jurusan hama dan penyakit tumbuhan Program studi hama dan penyakit tumbuhan. Malang.
Syamsuddin.  2008. Bioekologi Hama Pasca Panen Dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Sulawesi Selatan.
Supartha Utama. 2006. Pengendalian Organisme Pengganggu Pascapanen Produk Hortikultura dalam Mendukung GAP. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. Bali.
Suparjo. 2011. Kerusakan Bahan Pakan Selama Penyimpanan. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Sumatra.

Sylvia sjam. 2007. Pengelolaan Hama Pasca Panen Untuk Memenuhi Tuntutan Perdagangan Internasional. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UNHAS. Sulawesi selatan.

MEMBUAT PREPARAT AWETAN NEMATODA DAN BIAKAN MURNI JAMUR

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam kehidupan sebuah organisme setidaknya manusia lebih dikenalkan dengan adanya sebab dan apa saja yang kerap dilakukan terhadap acuan aktivitasnya. Prioritas suatu upaya untuk mengetahui secara details mengenai sekelompok organisme yang hidup dan beradaptasi dengan mengelabui poros kehidupan disuatu habitatnya perlu adanya sebuah indikasi untuk mengetahuinya, salah satunya adalah nematoda, nematode yang kerap kita tau merupakan mikroorganisme yang hidup didalam tanah yang berbentuk seperti cacing memiliki ukuran mikroskopis, berbentuk silindris memanjang, berwarna transparan, serta berada pada tanah yang mengandung film-film air. Didalam tanah nematoda ada yang bersifat saprofit, akan tetapi juga ada yang bersifat patogen. Nematoda saprofit, bukan hanya bermanfaat bagi kesuburan tanah yang dikarenakan aktifitas metabolismenya nematoda menghasilkan keringat yang berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah tersebut. Karena bagaimanapun tidak kehidupan yang sekarang dilalui oleh nematoda merupakan sebuh penyampaian tingkat kesuburan pada tanah dan seperti bahasab diatas yang merupakan upaya rincinya nematoda.
Spesifikasi yang juga vital oleh nematoda adalah sebagai upaya pergerakan yang dapat menempuh kapasitas kecepatan yang dilakukan dengan perbandingan nematoda patogen pada umumnya. Hal tersebut terjadi dikarenakan nematoda patogen yang masuk kedalam perakaran tanaman akan menyerap nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tanaman, dan akan menyebabkan tanaman tersebut terganggu pertumbuhannya. Selain itu, jika nematoda saprofit tidak memiliki stylet pada mulutnya, akan tetapi pada nematoda patogen, terdapat stylet pada ujung mulutnya, yang berguna untuk melukai, dan menembus dinding akar, dalam menyerang tanaman, nematoda dikenal memiliki 3 cara penyerangan, yakni ektoparasit, endoparasit, dan semiendoparasit. Ektoparasit merupakan serangan nematoda dengan cara membuat luka pada akar tanaman inang, sehingga tanaman inang yang akarnya dilukai oleh nematoda menjadi pintu masuknya nematoda dalam melakukan infeksi akar, yang selanjutnya akan menjadikan sebagai tempat nematoda untuk malakukan proses metabolisme pertumbuhannya, sehingga nematoda patogen melangsungkan perkembangbiakannya berada didalam tanaman inang tersebut, karena dengan pemberlakuan terhadap infeksi akar tersebut akan lebih menjanjikan tempat yang dibutuhkan dalam proses dan kelangsungan yang akan terjadi.
Selanjutnya adalah serangkaian proses adaptasi nematoda yang menyerang dengan sejumlah cara dan mulai masuk terhadap berbagai upaya pada lubang yang terabaikan inrensitas penahanannya, disini kerap kali manusia mengartikan sebuah endoparasit sebagai penyerangan nematoda dengan cara masuk melalui lubang-lubang alami tanaman inang, seperti misalnya pada pori-pori akar. Nematoda yang masuk melalui lubang-lubang akar tanaman tersebut kemudian melakukan proses perkembangbiakannya didalam tanaman inang, dan akan menyerap nutrisi yang dihasilkan oleh tanaman inangnya, sehingga menyebabkan tanaman inang pertumbuhannya  nejadi terhambat dikarenakan dengan begitu serangan demi serangan dapat dilakukan dengan maksud melalui lubang akar pada tanamannya.

1.2  Tujuan  
1.    Untuk mengetahui cara membuat preparat awetan, serta fungsi awetan nematoda dan jamur yang sudah benar-benar diuji kebenarannya.
2.    Upaya untuk lebih mengenal dan mengetahui teknik memancing nematoda dengan diupayakan semalam suntuk lamanya, guna mendapat resolusi yang diharapkan sebelumnya.








BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

            Nematoda adalah organisme Pengganggu Tanaman yang kerap mengganggu tanaman dan sejumlah orang menganggapnya sangat merugikan karena kebanyakan orang hanya mengetahui sejumlah peristiwa dan kejadian disekitarnya tanpa lebih mengetahui spesifikasi yang dapat kita cerna kebenaranya, tetapi perlu diketahui bahwa nematoda merupakan sejenis cacing halus yang hidup sebagai saprofit didalam air dan tanah, atau juga sebagai parasit pada tanaman dan hewan. Nematoda yang hidup sebagai parasit pada tanaman memiliki stylet yang berfungsi sebagai parasit pada tanaman dan hewan.hal yang juga dapat kita ketahui bahwa nematoda dapat memberikan manfaat bahkan menjadi perusak dari pada tanaman pertanian hampir di seluruh penjuru dunia, lebih lebih diindonesia karena tidak menutup kemungkinan hal yang terjadi itu disebabkan dan banyak dipengaruhi olehnya.
            Sebagai nematoda parasit yang sejumlah dari pakar pertanian mengklaim bahwa jenis ini lebih memberikan banyak kerugian dengan alasan yang sangat signifikan setelah kita kaji kebenarannya, ada beberapa kemungkinan yang terjadi kalau kita bisa menjadikan acuan terhadapnya. Hal tersebut dikarenakan masih belum di temukannya metode pengendalian nematoda dengan cara yang ramah lingkungan. Cara pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimiawi dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang negatif dikarenakan bersifat beracunbagi manusia dan hewan peliharaan, selain itu, penggunaan nematisida kimiawi dapat dapat mencemari air, dan tanah. Sangat diupayakan dalam menyikapi terselubungnya pengendalian yang akan kita lakukan, lebih berat jika tidak ditindak lanjuti keseluruhan dari pada konsep penerapannya yang seperti itu.
            Produksi yang sungkar terjadi akhir akhir ini adalah tidak terkontrolnya pengendalian sehingga resolusi yang diharapkan tidak sesuai. Termasuk sejumlah serangan nematoda dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat besar. Serangan nematoda dapat menyebabkan kerusakan pada akar dikarenakan nematoda menghisap sel-sel akar, yang mengakibatkan pembuluh jaringan akar terganggu sehingga translokasi air dan unsur haramenjadi terhambat. Serangan nematoda juga dapat mempengaruhi proses fotosintesis, dan transpirasi. Sehingga pertumbuhan terhambat daun berwarna menguning seperti kekurangan unsur hara, dan mudah layu. Seperi halnya yang terjadi pada kehilangan hasil pada tanaman kenaf mencapai 19%bahkan lebih bila serangannya berat, dan apabila berasosiasidengan Fusarium spp., kerugian hasil kenaf bisa mencapai 100%. Pengendalian NPA adalah dengan carafumigasi atau penggunaan nematisida. Tetapi solusi yang seperi itu tidak sepenuhnya menjamin. (Setyo-Budi dkk, 2009).
Ada beberapa sekelompok organisme memang yang paling dianggap sanagt berperan penting terhadapnya. Dan suatu upaya untuk lebih menindak lanjuti generasi hidup yang relatif singkat, menunjukkan respons yangspesifik terhadap berbagai gangguan tanah,dan kemampuan berkoloni yang tinggi. Hal yang juga tidak kalah pentingnya dalam mengevaluasi hindaran yang terjadi pada suatu dengan diketahuinya kedalaman optimal sampel tanah untuk mendapatkan data mengenai kerapatan dan biodiversitas nematoda tanah, maka pengetahuan mengenai nematoda tanah sebagai sarana biomonitoring kondisi suatu tanah akan mudah diperoleh dan ditemukan penitik beratkan dan juga selain itu,nematoda memiliki kulit yang permeabel, sehingga peka terhadap polutan. Kehidupan hewan ini sangattergantung pada habitatnya dan tidak bisa dilepaskan kecakapannya dalam mengalami intensitas kehidupanya. (Rahmita, 2007).
Teknik penggenangan akan mempengaruhi kemamouan perkembangan nematoda dari larva menjadi dewasa. Pada tanaha dengan perlakuan yang penuh air nematoda tidak mampu untuk bergerak dikarenakan lapisan air menebaldan dapat memperlihatkan penurunan penetasan telur. Selain itu, Pengendalian nematoda parasit tanaman saat ini umumnya masih dilakukan dengan menggunakan pestisida berupa insektisida yang sekaligus bisa digunakan sebagai nematisida. Pengendalian dengan kultur teknis dengan rotasi tanaman maupun penanaman tanaman antagonis kurang mendapatkan hasil yang signifikan. Penggunaan bahan kimia secara terus menerus dalam pengendalian nematoda dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. (Irfandri, 2008).
Nematoda parasit juga dengan agresif merusak tatanan akar sehingga menyebabkan tidak normalnya fungsi berbagai sistem yang memiliki peran yang sangat penting dalam dalam pertumbuhan tanaman. Populasi nematoda yang terdapat didalam media tanam baik didalam akar maupun didalam tanah berbeda pada masing-masing tanaman. Pertumbuha tanaman yang meliputi berat kering, dan berat basah tajuk sangat dipengaruhi oleh nematode, didalam melakukan budidaya tanaman pangan terdapat beberapa hambatan, dan salah satu hambatan yang terpenting adalah gengguna yang disebabkan oleh serangan nematoda parasit.
Serangan nematoda biasanya terjadi pada tanah yang memiliki tekstur kasar atau berpasir. Disamping nematoda parasit dapat memperlemah tanaman budidaya, nematoda ini dapat juga menurunkan produksi tanaman budidaya. Serangan nematoda parasit pada bagian akar tanaman sering ditunjukkan dengan bengkak akar. Hal tersebut dikarenakan nematoda masuk melalui lubang alami bulu-bulu akar, ataupun masuk dengan cara melukai bulu-bulu akar yang semulanya dapat diketahuai asas kebenarannya. (Reijntjes dkk, 2006).
            Terdapat banyak macam yang ada dalam kehidupan nematoda, salah satu yang sangat dikenal eksistensiya adalah nematoda yang menyerang tanaman budidaya adalah jenis nematoda Pratylencus. Serangan nematoda ini akan menyebabkan gejala nekrois pada akar tanaman dikarenakan nematoda ini bersifat endoparasit migratori, yaitu nematoda yang ketika makan nematoda ini berpindah-pindah didalam akar tanaman inangnya, dan bahkan keluar untuk menemukan akar yang baru. Tanaman varietas smooth ceyenne merupakan inang yang cocok bagi nematoda Pratylencus. (Swibawa dkk, 2010).
            Tercantum acuan dasar yang menyebabkan perkembangan dramatis daripada gannguan yang terjadi pada tanaman dengan berbagai upaya dalam melakukan gangguan pada pengangkutan unsur hara dan air oleh akar tanaman dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman diatas tanah. Didalam perkembangbiakannya, nematoda dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan. (Matnawy, 2007).

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum teknik media tanam bagian hama dan penyakit tumbuhan dengan acara membuat preparat awetan nematoda dan biakan murni jamur dilaksanakan dilaboratorium hama dan penyakit tumbuhan fakultas pertanian universitas Jember pada hari Selasa 30 April 2013 pukul 19.00 sampai 04.00 WIB.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Mikroskop
2. Cawan petri
3. Preparat
4. Lidi
5. Bak/wadah
6. Saringan

3.2.2 Bahan
1. Tanaman pacar air
2. Air
3. glasswoll
4. Laktofenol
5. Parafin

3.3 Cara Kerja
3.3.1 Memancing Nematoda
1. Memancing nematoda dengan cara mengambil mikroskop bonokuler, dan meletakkan diatas meja kerja, kemudian suspensi nematoda yang telah disediakan diletakkan dibawah lensa obyektif.
2. Menyesuaikan lensa mikroskop dengan kemampuan pandangan mata.
3. Setelah sasaran terlihat, dengan menggunakan pancing mengarahkan pancing tersebut pada nematoda.
4. Mengangkat nematoda sedikit demi sedikit dengan diikuti pentesuaian lensa , mengangkat hingga sampai permukaan air.

3.3.2 Membuat Preparat Awetan Nematoda
1. Mengumpulkan beberapa ekor nematoda yang telah difiksasi dan memasukkan kedalam gelas arloji atau cawan petri yang telah berisi laktofenol panas (65-70 C) dan memberi zat pewarna (asam fuksin, cotton blue dan lain-lain).
2. Membuat lingkaran parafin pada gelas benda, menetesi laktofenol secukupnya (1-2 tetes) memberi glasswoll pada tiga sisi sebagai penyangga agar nematoda tidak pipih.
3. Memindahkan nematoda dengan pancing (handling needle) dan menempatkan tepat ditengah-tengah lingkaran parafin dalam laktofenol.
4. Menutup dengan kaca penutup (cover slip).
5. Memanaskan diatas lempeng pemanas atau lampu bunsen beberapa etik untuk mencairkan parafinnya dan melekatkan dengan lem atau lak kuku.
6. Memasukkan kedalam lempeng preparat yang terbuat dari lempeng alumunium, menjepit dengan karton.
7. Memeberi etikettentang naman spesies, nama kolektor, tempat dan lain sebagainya.
8. Menyimpan dalam kotak preparat (ada yag terbuat dari kayu, plastik, ataupun seng)








BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan       
Dengan dilakukannya upaya dengan target uapaya terhadap suatu perbandingan dengan uji kebenaran praktikum dan literature yang ada dapat kita temukan bahwa setelah melakukan perbandingan dengan literatur, jamur yang tumbuh pada media biakan murni jamur miring tersebut adalah Aspergillus Nige ini adalah upaya yang dilakukan oleh kelompok awal daripada kelompok pertama yang dilakukannya dan kelompok selanjutnya adalah mengenai pengguanaan yang diuji permediaannya dan pemberlakuan dengan berbagai opsi dan setidaknya digunakan yang ada adalah dengan menggunakan media, dan perlakuan yang sama pula, dapat diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna hijau, keputihan, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur jamur yang tumbuh adalah jenis Trichodermaspp. Terjadinya kesinmabungan dari upaya kelompok tiga dengan uji kualitatif serta pertumbuhan jamur dengan warna putih susu. Setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang ditemukan jamur yang tumbuh dan begitu pula dengan selanjutnya kelompok dari pada keempat dan seterusnya
Tidak seluruh uji kebenaran yang dilakukan itu sepenuhya bisa menghasilkan sempurna, ada dari beberapa penelitian akan beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kontaminasi tersebut diantaranya dan sudah diusahakan dapat bisa terjadi ketidak kontaminan semisal yakni tidak sterilnya peralatan yang digunakan untuk praktikum. Kebersihan peralatan, dan sterilnya peralatan laboratorium menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dengan seksama. Hal tersebut dikarenakan semua kegiatan laboratorium yang menggunakan peralatan pasti berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang kasat mata, jika peralatan yang telah digunakan tidak dibersihkan dan di sterilkan dengan akan menyebabkan kontaminasi, karena tidak dilakukannya ekstra hati-hati terhadapnya sebelum dilakukanNya.
Hal tak kalah penting lainnya adalah dalam penerapan konsep agar semua yang kita upayakan tidak terjadi kontaminasi adalah dengan menjaga betul sterilasi dan menjaga betul untuk menghindari kesalahan dalam isolasi yang dapat berakibat pada kesalahan data yang nantinya akan diperoleh. Kesalahan yang sering dijumpai pada beberapa kegiatan laboratorium adalah kesalahan dalam tahapan, atau langkah kerja, misal ada beberapa langkah kerja yang harus di lakukan secara berurutan, akan tetapi salah satu langkan tersebut tertinggal, atau bukan pada tahapannya akan mengakibatkan kesalahan hasil, dan sering pula upaya kita yang sudah terlaksanakan sia sia karena hasil akhir yang kita lakukan tidak terlalu memperhatikan anjuran dan ketentuan daripada praktikum, karena bakteri merupakan mikroorganisme yang berukuran mikroskopis menjadikan bakteri sulit ketahui keberadaanya.
Hal tersebut menjadikan bakteri masuk kedalam media tanpa disadari dan akan tumbuh pada media yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi bakteri tersebut. Jika hal tersebut sampai terjadi maka, akibat yang ditimbulkan adalah tumbuhnya mikroorganisme lain yang tidak diharapkan pada media tumbuh. Hal tersebut tentunya akan sangat mengganggu proses pertumbuhan, dan pengamatan bakteri yang diharapkan, dan nantinya akan berdampak pada kesalahan hasil data yang diperoleh.
Namun pada praktikum ini tidak dilakukan tahap membius nematoda, karena tujuan dari praktikum ini adalah pembuatan preparat awetan nematoda. Jamur dalam awetan tersebut telah berkembang dan memiliki struktur yang sempurna sehingga dapat dikatakan bahwa bahan awetan tersebut cukup ideal untuk dijadikan awetan jamur. Tahap pertama pembuatan preparat adalah mengambil jamur dari media. Pengambilan jamur dilakukan dengan menggunakan jarum ose yang telah disterilkan dengan dipanaskan, harus hati-hati dan teliti dalam pengambilan, jangan terlau banyak ataupun terlalu sedikit.
 Kemudian diletakkan pada gelas benda ditengah lingkaran parafin, lalu pengamatan pada mikroskop harus didapati tampilan yang bagus seperti hifa, badan jamur, dan spora jamur yang harus terlihat jelas, Pembuatan preparat merupakan kegiatan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran dimana pemancingan nematoda, pembuatan lingkaran paraffin, pemberian glaswool, dan pemberian larutan fiksatif, semuanya membutuhkan kejelian dan kesabaran. Praktikan harus mengulang beberapa kali untuk mendapatkan nematoda saat tahap memancing dan membuat lingkaran parafin.
Untuk bahasan selanjutnya adalah mengenai peranan langsung mikoriza adalah membantu akar dalam meningkatkan penyerapan air karena hifa cendawan masih mampu menyerap air dari pori-pori tanah pada saat akar tanaman sudah mengalami kesulitan mengabsorbsi air. Perbanyakan jamur dengan biakan murni adalah perbanyakan jamur dimana miselium jamur tumbuh pada media agar. Hasil dari biakan murni inilah yang kemudian diperbanyak menjadi biakan induk dan menjadi inokulum untuk membuat bibit jamur. Media yang biasa digunakan untuk biakan murni adalah medium agar Akar tanaman yang pendek dan serabut atau akar tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan baik akibat sifat fisik dan kimia tanah yang rusak dapat terbantu perannya dalam menyerap air dan unsur hara. Hifa mikoriza yang telah menginfeksi akar tanaman dapat menjulur sampai 10 meter sehingga mampu menyerap unsur hara dan air pada daerah yang tidak dapat terjangkau oleh akar. Pada tanaman bermikoriza, respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan cenderung lebih dapat bertahan dari kerusakan korteks dibandingkan tanaman tanpa mikoriza. Gangguan perakaran ini tidak akan berpengaruh permanen pada akar-akar bermikoriza.
Adapun beberapa langkah dan cara yang dilakukan dan dikerjakan sesuai dengan petunjuk, dan menghasilkan hasil yang sesuai dan seperti diharapkan. Sedangkan jika hasil yang di dapat setelah melakukan isolasi dan masa inkubasi tidak ada perubahan, hal tersebut dikatakan biakan tidak tumbuh. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa hal seperti komposisi atau takaran media tidak sesuai dengan mikroorganisme yang akan di tubuhkan pada media tumbuh tersebut selain itu faktor yang dapat mengakibatkan mikroorganisme tidak tumbuh adalah ketika melakukan isolasi mikroorganisme yang diharapkan mati, matinya mikroorganisme tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah terkena pancaran sinar ultraviolet
Perbandingan yang dilakukan terhadap jamur dan media biakan kelompok 1 adalah jenis jamur Aspergillus niger sp. Jamur Aspergillus niger merupakan salah satu jenis jamur yang merugikan dikarenakan jamur tersebut bersifat patogen pada tanaman inangnya. Hal yang menjadikan jamur Aspergillus niger mapu mengganggu proses pertumbuhan tanaman iang dikarenakan jamur tersebut dapat menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin mampu mengkontaminasi biji-bijian, daging, buah-buahan sehingga menjadikan buah yang terkontaminasi menjadi busuk begitu pula dengan biakan murni kelompok 2 memiliki warna hijau, dan setelah dilakukan perbandingan dengan literatur yang didapatkan jamur yang tumbuh pada media biakan murni kelompok 2 adalah jenis jamur Trichoderma spp. Jamur tersebut menjadi salah satu jamur yang bersifat saprofit, atau menguntungkan bagi tanaman inangnya. Sedangkan pada biakan kelompok 3 dan kelompok 4 yang terkontaminasi jamur yang di tumbuhkan berwarna putih susu, dan setelah dibandingkan dengan literatur yang ada, jamur yang tumbuh pada media biakan kontaminasi.
Terdapat beberapa langkah yang harus mempuni terhadap awetan nematoda pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan akar tanaman inang nematoda tersebut beserta tanah yang menempel pada akar tanaman inang nematoda pada bak yang telah berisi air bersih. Kemudian langkah selanjutnya adalah membersihkan akar tanaman inang tersebut dengan menggunakan air yang telah tersedia didalam bak hingga akar tanaman inang bersih dari tanah. Langkah selanjutnya yakni membiarkan air dalam bak yang telah keruh dengan tanah dari tanaman ianang tersebut langkah berikutnya yakni menyaring air yang berada didalam bak tersebut dengan menggunakan 3 saringan yang memiliki kerapatan yang berbeda. Diawali dari saringan yang terlebar, hingga saringan yang paling rapat dengan tujuan agar nematoda tidak ikut terbuang bersama air yang telah disaring dengan sepenuhnya ketentuan pemakaian.










BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Setelah dilakukannya praktikum dan upaya dalam mencari kebenaran yang kita lakukan dapat kita simpulkan bahwa tidak keseluruhan apa yang manusia kebanyakan beranggapan itu benar, karena ada sekian mikroorganisme yang kita lakuakan sangat bermanfaat terhadap kesuburan tanah dan juga menjadi salah satu faktor yang sangat berperan penting untuk dan dalam proses pertumbuhannya, karena yang dilakukannya adalah sebuah upaya besar besaran dalam proses penumbuhannya.

5.2 Saran
a)    Dalam praktikum sangatlah dibutuhkan sebuah ketelitian, karena itu yang menjadi patokan dalam pengaplikasian dan upaya dalam mencari kebenaran praktikum serta dilakukannya.
b)   Perlu ditengarai sebuah dasar yang kita lakukan sebelum konsepnya diterapkn
c)    Kontaminasi yang terjadi akan membuat hal resolusi yang tidak diharapkan akan terjadi kalau tidak dilakukan exstra hati-hati.











DAFTAR PUSTAKA
Winarto dan Trizelia, 2008. Aktivitas Antagonistik Dan Karakterisasi Jamur Yang Berasosiasi Dengan Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne Spp.) Pada Tanah Dan Akar Tanaman Tomat.

Rahmita Dewi, dkk, 2007. Kerapatan Dan Biodiversitas Nematoda Tanah Gambut Di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. 4 (2). 85-94.

Sunarmi Yohana Ipuk dan Saparinto Cahyo, 2010. Jamur. Jakarta. Penebar swadaya.

Pracaya, 2008. Hama Penyakit Tanaman. Jakarta. Penebar Swadaya.

Mustika Ika dan Ahmad Riza Zainuddin, 2004. Peluang Pemanfaatan Jamur Nematofagus Untuk Mengendalikan Nematoda Parasit Pada Tanaman Dan Ternak. Jurnal Litbang Pertanian. 23 (4). 115-116.

Fadhilah, dkk, 2011. Kajian Pengolahan Sampah Kampus Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponogoro. Modul. 11 (2). 62-63.